Minggu, 05 Januari 2014

#AkhirTahundiJBS: Dari Penciptaan hingga Penerbitan

Menutup akhir tahun 2013, terselenggara juga agenda Akhir Tahun di JBS yang bertajuk “Dari Penciptaan Hingga Penerbitan”. Acara digelar di Kedai JBS, Wijilan, Yogyakarta, pada Selasa, 31 Desember 2013. Sedianya, acara tersebut berlangsung pada pukul 15.00-19.30 WIB. Agenda pertama ialah diskusi mengenai kepenulisan dan penerbitan yang menghadirkan Irwan Bajang, Dea Anugrah, dan Bernard Batubara sebagai pembicara. Setelahnya, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi dan performance art oleh beberapa penyair dan pengunjung.

Hujan yang lebat membuat acara mundur hampir satu setengah jam dari jadwal. Biarpun demikian, antusiasme para pengunjung dan pengisi acara tetap besar. Sambil menunggu pembicara yang belum datang, pukul 16.20, Abdur Qodir Al Amin membuka rangkaian acara dengan pembacaan cerpen bertajuk “Careta Penandak” yang diambil dari Kumpulan Cerpen “Mata Blater” karya Mahwi Air Tawar. Dengan kostum khas Madura yang dikenakannya dan gayanya bercerita, ia mampu membuat pengunjung fokus dan menikmati pembacaan tersebut hingga usai.

Menyeimbangkan Kritik dan Pasar
Selepas pembacaan tersebut, diskusi yang dimoderatori oleh Dwi Rahariyoso dimulai. Bernard Batubara menjadi pembicara pertama yang menyampaikan materinya. Bara langsung menembak pada sisi industri penerbitan, seperti bagaimana memasarkan tulisan, penting tidak pentingnya jumlah followers di Twitter, mengupas genre bacaan yang laku, juga memberi motivasi untuk memberanikan diri menulis buku atau menerbitkan karya dengan cara apapun. Ia mencontohkan pengalaman awal mula menerbitkan buku pertamanya melalui jalur indie.
Pada tahun itu, antologi puisinya hanya dicetak sebanyak 75 eksemplar dan dibagikan gratis, bahkan hingga kini belum habis. Kini, dengan gencarnya penerbit mayor dalam mencari bibit potensial dan berkembangnya media sosial, Bara mengajak penulis baru agar jangan takut. “Banyak penulis bagus yang ‘gengsi’ mengeluarkan karyanya sehingga tidak tersebar di pasar dengan baik. Kebanyakan teman penulis suka nggak pede menawarkan karyanya ke penerbit,” ujar Bara.
Social media membantu menjual karya dan ada untuk dipakai, bukan untuk disia-siakan,” tegasnya. Meski demikian, ia mengungkapkan pula bahwa sekalipun jumlah followers berpengaruh pada laku tidaknya sebuah karya, hal itu bukan penentu kualitas.
Selanjutnya, Dea Anugrah diminta untuk menyoroti trend dan estetika kepenulisan. Mengawali kritiknya terhadap karya sastra sekarang, ia mengutip Orhan Pamuk yang mengatakan: Siapa yang masih akan membaca buku-bukunya 200 tahun lagi? Dari situ Dea menarik benang, bahwa jika penulis sekelas Pamuk pun menyatakan ketidakabadian karyanya, bagaimana dengan munculnya karya-karya sekarang yang standar kualitasnya dipertanyakan.
Terkait hal itu, penyair T.S. Pinang memberikan pertanyaan diskusi pancingan mengenai perlu tidaknya karya yang buruk diterbitkan menjadi sebuah buku. Dea menjawab dengan sebuah kesimpulan, “Jadi tidak setiap buku perlu diterbitkan, apalagi buku yang buruk.” Ia bahkan menjelaskannya dengan sebuah otokritik terhadap buku pertamanya yang tak dianggapnya lagi karena kualitas yang menurutnya buruk.
Menyoroti soal trend, Dea berterus terang bahwa ia tidak mengikuti prosa koran minggu, tetapi masih mencermati puisi. “Puisi-puisi yang muncul di koran memiliki kecenderungan pola estetik yang sama. Kesamaan gaya dalam puisi yang berulang tidak semata mengulang sisi kreatif, tetapi juga bolong-bolong dari puisi sebelumnya,” jelasnya. Ia mencontohkan tema yang cenderung seragam, misalnya mengangkat hal-hal remeh temeh seperti tusuk gigi dan celana, juga penggunaan personifikasi di sana-sini.
Sebagai pembicara terakhir, Irwan Bajang merangkum fenomena penerbitan dan penulisan yang sudah dipaparkan sebelumnya dari sudut pandangnya. Sejak era Facebook, banyak penulis yang lahir, mulai dari membuat catatan-catatan di profil mereka sendiri, untuk kemudian di-like  oleh teman-temannya dan dikomentari. Oleh karena itu, otokritik terhadap karya memang susah. “Buku-buku ‘sampah’ kini bisa saja bercampur dengan buku-buku yang berkualitas,” simpulnya.

Menciptakan Ruang Diskusi antara Penulisan dan Penerbitan
Usai penyampaian materi, diskusi yang hangat pun dimulai. Pertanyaan pertama adalah bisa tidaknya menulis dijadikan sumber penghidupan. Dengan tegas, Bara mengatakan, “Bisa!” dengan catatan tertentu. Ia memberikan tips-tips sampingan selain dari kualitas tulisan itu sendiri, seperti bagaimana memasarkan naskah, kerjasama dengan editor, tahu segmentasi pembaca, sambil tetap mempertahankan idealismenya. Ia mengakui bahwa ia sempat tidak merasa cocok dengan “Kata Hati”, bukunya yang sudah difilmkan. “Saya sebenarnya tidak ingin berada di jalur pop, tetapi jenis itulah yang diinginkan publisher,” ceritanya. Mengesampingkan mutunya yang menurutnya tak bagus, ia mengakui bahwa buku tersebut laku karena didukung dengan promosi yang bagus.
Selain itu, Bara juga menegaskan pentingnya personal branding di media sosial. Ketika citranya bagus, maka buku tersebut memiliki kemungkinan untuk lebih laku terlepas dari kualitasnya. Catatan yang terakhit ialah pentingnya penulis fokus dan konsisten pada genre dan segmen tertentu. Ia mencontohkan kesuksesan Nicholas Sparks yang terus berada di jalur romance dan eksplorasi JK Rowling yang kurang berhasil di genre lain. Hal tersebut berhubungan dengan citra/personal branding yang telah penulis bangun sebelumnya.
Menyoal otokritik dan kualitas, TS Pinang berpendapat bahwa sesungguhnya mutu buku tidak selalu menjadi tanggung jawab penulis, melainkan juga pembaca/kritikus/reviewer sebagai pemberi feedback terhadap karya tersebut. “Para pembaca yang kritis memiliki tanggung jawab moral untuk memberitahu si penulis supaya karyanya menjadi lebih baik,” tegasnya. Ia mencontohkan bagaimana ia menjadi mentor bagi beberapa orang, termasuk Bara, dengan kritik dan masukan yang cukup tajam bagi para muridnya. Hasilnya, beberapa orang mampu menghasilkan tulisan yang layak muat di media massa, meski kemudian beberapa di antaranya menghilang. Tambahnya, selain pentingnya timbal balik sebagai penjaga mutu karya, sebagai pondasi, proses belajar penulis harus diperdalam lagi. Salah satunya dengan mempelajari filsafat dan buku-buku yang beyond theory.
Irwan Bajang menimpali bahwa masalah menjaga mutu karya yang ada di lapangan yaitu adanya ‘penyakit’ sungkan terhadap teman sendiri. “Teman adalah orang yang seharusnya justru memberi komentar pertama yang paling keras, sebelum ada komentar dari luar yang bisa saja tercampur dengan sentimen atau pertentangan ideologi,” papar Bajang. Tegasnya lagi, “Penyakit puji-memuji harus kita bunuh!” Ia menambahkan, jangan meminta endorsement pada teman sendiri, melainkan pihak lain, bahkan pihak yang bertentangan dengan penulis. Meski demikian, ia sependapat bahwa jika menulis ingin dijadikan sumber penghidupan, maka penulis harus pintar mencari celah.
Dari diskusi di atas, Bara menyimpulkan poin-poin bagaimana cara menciptakan ruang diskusi karya yang baik. Pertama, kritikus atau komentator harus memiliki pendapat yang beralasan, bertanggung jawab dan memiliki ukuran yang jelas. “Sebab, komentar itu tidak hanya mendidik penulis, melainkan juga pembaca,” jelasnya. Kedua, perlunya pendapat yang berimbang, baik kritik yang frontal maupun yang penyampaiannya lebih santai. Dengan demikian, selain menunjukkan kekurangan, juga bisa menampilkan kekuatan karya tersebut. Terakhir, bagi penulis, ia menantang seberapa besar dan seberapa jauh penulis ingin mencapai mutu terbaiknya. “Jangan takut. Jangan langsung patah arang sekalinya dapat komentar kritis. Soalnya, kalaupun nanti sudah mengeluarkan buku yang banyak dan baik, toh pasti tetap ada yang bisa menemukan kekurangannya.” Ia menegaskan bahwa orang harus punya target dan tidak terpaku pada komentar. “Ubahlah cara kita menyikapi komentar-komentar tersebut,” tandasnya.
Pertanyaan berikutnya mengenai kritik gaya kepenulisan ditanggapi oleh TS Pinang. Ia menjelaskan bahwa penulis harus selektif melihat komentar, sebab gaya adalah persoalan selera. Lain halnya jika yang dikomentari adalah hal yang berhubungan dengan teknik atau logika cerita.
Menutup diskusi tersebut, Dea mengungkapkan ada cara lain yang lebih tak berisiko untuk menjaga mutu karya selain mengandalkan kritik dari luar. Ia menceritakan seorang lelaki pemilik bar musik jazz yang mendapat pencerahan ketika membaca sebuah buku. Lelaki itu kemudian memutuskan untuk berhenti membuka bar dan menjadi penulis. Penulis yang dimaksud tak lain adalah Haruki Murakami. “Intinya, santai saja. Jika butuh motivasi, tak mesti berguru dengan orang. Baca buku pun memungkinkan orang untuk termotivasi dan mendapatkan pencerahan.,” simpulnya.
Diskusi pun ditutup dengan sebuah kesimpulan bahwa masih ada cara-cara yang bisa dilakukan untuk membuat suatu karya terjaga mutunya tanpa mengesampingkan aspek penting dari industri penerbitan. “Ada banyak cara menjadi penulis bagus, sebagaimana ada banyak cara untuk menjadi penulis buruk,” tutup Dea.

Ruang Ekspresi yang Guyub
Acara dilanjutkan dengan makan malam dan bincang santai sebelum dimulainya pembacaan puisi dan performance art dari pengisi acara dan pengunjung. Sambil makan para undangan dan pengisi acara disuguhi pembacaan puisi oleh Iqbal Syaputra dengan seorang rekannya. Ia membaca puisi Indrian Koto dengan mengupayakan sejumlah unsur lokal Minang. Usai makan, lampu dipadamkan dan pertunjukan sebenarnya pun dimulai.
Ruangan JBS hanya diterangi sejenis par can yang berisi lampu halogen agar penonton fokus pada pengisi acara. Ofemix Nuhansyah sebagai penampil pertama membuka sesi ini dengan cara yang tak lazim dan bikin penasaran. Ia membagi-bagikan tissue ke penonton dan meminta mereka menulis apa saja yang terlintas. Usai dikumpulkan kembali, ia menggenggam tissue tersebut dan meletakkan di dada sambil tengkurap sambil meminta tuan rumah, Indrian Koto, menginjak punggungnya. Usai adegan tersebut, ia menyatakan bahwa dalam tengkurapnya ia berdoa bagi semua pengunjung untuk tahun yang baru dan akan menyimpan tissue tersebut sebagai hadiah tahun barunya. Unik, kan?
Pembacaan puisi pun dimulai. Anes Prabu Sadjarwo membawakan Di Pangkuan Yogya karya Iman Budhi Santosa yang terdapat di buku Ziarah Tanah Jawa. Selanjutnya ada Rini Febriani yang membawakan haikunya yang berjudul Waktu, lalu Mas’od Kamil dengan Anak Ladang dan Di Pinggir Kali. Komang Ira Puspitaningsih membawakan puisi milik moderator diskusi, Dwi Rahariyoso yang berjudul Ikan Asin. Kali Code buat YB. Mangunwijaya merupakan puisi selanjutnya yang dibawakan oleh Kedung Darma Romansha, dilanjutkan dengan Aku Mencintai Embun yang Sederhana oleh Alif Rahmadanil. Selanjutnya, ada Klimaks Cinta milik Yayan Sutain yang dia bawakan sendiri, setali tiga uang dengan Rumah dan Perjamuan yang digawangi sendiri oleh penulisnya, S. Arimba.
Pembicara pun tak mau kalah. Bara kembali menjadi yang pertama, kali ini dalam giliran membacakan dua sajaknya, Pada Paragraf yang Begitu Singkat dan Aku Ingin Mencintaimu dan Melupakanmu Dengan Sederhana. Usai menyampaikan salam dari Gola Gong, giliran Syakky Yanky membacakan puisi bertajuk Di Manakah Waktu. Latief S. Nugraha mendefinisikan penyair  dengan gayanya yang unik ketika membacakan Sebuah Catatan: Yogyakarta. Mata Air Akar Pohon milik Nur Wahida Idris menjadi puisi selanjutnya yang dihayati oleh Eka Nusa P., dilanjutkan dengan Ari A. Nasution yang membawakan Buruh III dan Gurindam Perpisahan. Irwan Bajang menjadi pembicara kedua yang maju membawakan tiga puisinya, Tik Tok Tik Tok, Pada Resepsi Pernikahan Itu, dan Kepulangan Kelima yang juga menjadi judul bukunya. Tak hanya Bajang yang membacakan hingga tiga puisi. Cipta Ari Wibawa muncul dengan Gurindam Penyair Muda, Seloka Empat Baris Puisi Penyair Muda, dan Impase.
Sambutan yang meriah diberikan kepada Sunlie Thomas Alexander yang membacakan Lanskap Leluhur dan Elegi Kuli Tambang yang didedikasikan kepada kakeknya. Tak kalah meriah pula sambutan diberikan ketika salah satu tuan rumah, Mutia Sukma, hadir membacakan puisi barunya berjudul Agam. Hal yang berbeda ditampilkan oleh Lany Rh. dengan membacakan dongeng berbahasa Inggris yang ia ambil dari buku tiga dimensinya yang lucu.
Tak mau kalah dari pengisi acara lain, tuan rumah pun ambil bagian dalam pembacaan. Indrian Koto membawakan dua puisinya, Dari dalam Kampung dan Kau dalam Sebuah Sajak. Sambutan yang diterimanya cukup membuat riuh suasana saat itu. Dea Anugrah menjadi pembicara terakhir yang membacakan dua puisinya, Sebab Matahari Tak Bisa Menghapus Kesedihan dan Misa Arwah, yang digadang-gadang akan menjadi judul bukunya yang terbaru. Selanjutnya, Mahwi Air Tawar hadir membacakan puisi yang ditulis anaknya sendiri, Are Timur Daya. Terakhir, sebagai gong, tak ketinggalan MC kita, M. Fahmi Amrulloh membawakan puisi Gus Mus yang berjudul Teka-teki.
Dengan berakhirnya pembacaan puisi oleh Fahmi tersebut, maka berakhirlah pula rangkaian acara Akhir Tahun di JBS 2013 pada pukul 21.00! Segenap kru JBS mengucapkan terima kasih untuk kehadiran dan partisipasi semua pendukung acara ini. Semoga di tahun 2014, JBS mampu memberikan pelayanan yang lebih baik dan menghadirkan agenda-agenda menarik lainnya. Sampai jumpa di event selanjutnya! (Keshia Sawitri) Foto dok. Lani Rh.

4 komentar:

  1. Pertamax!! Hehehe. Komprehensif deh! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. cihuiiii..... pertamax dan satu2nya :-(

      Hapus
  2. taktambahi komen walaupun telat, sudah ada tiga jadinya :)

    BalasHapus

Blogger Widgets